Hikmah Dibalik Meninggalnya Putra-Putra Nabi pada Usia Belia

Ulama sejarah mencatat bahwa Rasulullah saw. memiliki tujuh anak sepanjang sepak terjang beliau. Mereka adalah Abdullah, Ibrahim, Qashim, Fatimah, Zainab, Ummu Kulsum, dan Ruqayyah.

Dari sekian banyak anak tersebut, enam di antaranya meninggal dunia mendahului beliau Saw. Hanya Fatimah yang hidup setelah beliau Saw., itu pun selisih beberapa bulan saja.

Fatimah jugalah satu-satunya yang berhasil melangsungkan keturunan dari Nabi Saw.

Sebenarnya, Ruqayyah dan Ummu Kulsum sempat diperistri oleh Utsman bin Affan hingga beliau dijuluki Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya).

Namun, keduanya keburu meninggal dunia sebelum sempat melahirkan anak. Jadilah Fatimah satu-satunya harapan Nabi Saw. untuk meneruskan nasab beliau.

Putra-putra Nabi Saw. bahkan meninggal pada usia yang sangat dini. Qasim yang merupakan putra pertama Nabi dengan Khadijah, lahir sebelum masa kenabian dan wafat pada usia sekitar 17 bulan.

Putra kedua dan ketiga tidak berbeda jauh. Untuk putra kedua yakni Abdullah juga meninggal belia namun tidak disebutkan usia meninggalnya secara spesifik. Sementara putra ketiga meninggal pada usia 18 bulan.

Banyak kaum Barat dan orientalis yang menyerang Nabi Saw. dengan hal tersebut, menganggap beliau Saw. menelantarkan anak-anaknya atau tidak bisa memelihara mereka dengan baik.

Tetapi tidak benar. Sebagai muslim, kita meyakini bahwa segala hal yang terjadi merupakan qadarullah dan ada hikmahnya.

Menarik. Apa hikmah yang bisa diambil?



Fatimah akhirnya dipinang oleh Ali bin Abi Talib, seorang pemuda gagah dan tampan yang juga termasuk assabiqun al-awwalun.

Dari pernikahan Fatimah dan Ali, lahirlah dua putra bernama Hasan dan Husain. Keduanya merupakan cucu Rasulullah Saw.

Hasan dan Husain terus hidup dan melangsungkan keturunan. Bahkan banyak sekali. Hasan sendiri memiliki sekitar 24 anak sementara Husain memiliki 12 anak.

Di antara yang populer adalah Jafar bin Hasan, Ali bin Husain, Zaid bin Hasan, Ali bin Husain, dan lain-lain.

Silsilah ini menimbulkan banyak sekali fitnah bagi pengikut-pengikutnya yang sesat, lebih dikenal sebagai Syiah.

Beberapa di antara mereka dimasukkan dalam Syiah Itsna Asyariah. Yakni, daftar 12 imam yang menurut Syiah seharusnya memegang tapuk imamah Islam.

Sifatnya monarki (yang senasab Nabi saja) sehingga nama-nama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman yang notabene tidak ada garis darah dari Rasulullah Saw. tentu saja luput.

Mereka tidak mengakui ketiganya sebagai khulafa yang sah, hingga kini.

Berikut daftar Imam Syiah Itsna Asyariah.


No.
Nama Imam
Lahir-Wafat
Tempat kelahiran
1
Ali bin Abi Talib
600—661 M / 23 40 H
Mekkah, Arab Saudi
2
Hasan bin Ali
624—680 M / 3–50 H
Madinah, Arab Saudi
3
Husain bin Ali
626–680 M / 4–61 H
Madinah, Arab Saudi
4
Ali bin Husain
658–712 M / 38—95 H
Madinah, Arab Saudi
5
Muhammad al-Baqir
677–732 M / 57–114 H
Madinah, Arab Saudi
6
Ja’far Ash-Sadiq
702–765 M / 83–148 H
Madinah, Arab Saudi
7
Musa Al-Kadzim
744–799 M / 128–183 H
Madinah, Arab Saudi
8
Ali Al-Ridha
765–817 M / 148–203 H
Madinah, Arab Saudi
9
Muhammad Al-Jawad
810–835 M / 195–220 H
Madinah, Arab Saudi
10
Ali Al-Hadi
827–868 M / 212–254 H
Surayya (sebuah desa dekat Madinah), Arab Saudi
11
Hasan Al-Asykari
846–874 M / 232–260 H
Madinah, Arab Saudi
12
Mahdi
Tidak diketahui
Tidak diketahui

Yang Syiah sendiri juga tahu, beberapa nama di atas tidak pernah sekalipun mengklaim diri mereka seorang imam. Bahkan beberapa di antaranya telah berkali-kali membantah dan mengklarifikasi bahwa mereka hanyalah hamba Allah Swt.

Namun, Syiah tetap mengotot untuk memuliakan mereka dengan memberinya berbagai gelar. Mulai dari imamah, kenabian, bahkan hingga ketuhanan-- melebihi derajat Rasulullah Saw.

Sebenarnya, paham Syiah sendiri sudah bermula sejak wafatnya Rasulullah Saw. Menurut teori yang cukup kuat, Syiah dipelopori oleh seorang pemuka Yahudi bernama Abdullah bin Saba.

Sejak awal kekhalifahan Abu Bakar, ia telah memercikkan api kebencian. Ia berkeliling ke berbagai negara Islam untuk menghasut kaum Muslim agar ketaatan mereka terhadap para penguasa hilang.

Hingga akhirnya ia mengadakan makar terhadap Khalifah Ketiga Utsman bin Affan yang berakhir dengan terbunuhnya sang khalifah saat sedang salat.

Bersama pengikutnya (Syiah Sabaiyyah), mereka pernah mendatangi Ali bin Abi Talib dan mengklaim Ali sebagai Tuhan mereka. Tentu saja Ali gerang melihat tingkah laku mereka.

Setelah dibujuk berkali-kali namun tidak mau sadar juga (karena doktrin yang terlalu ekstrem tentunya), tidak ada pilihan lain. Ali mengeksekusi mati mereka semua dengan membakarnya hidup-hidup.

Sialnya, Abdullah bin Saba berhasil lolos. Semangatnya belum padam juga. Setelah wafatnya Ali, ia menyebarkan doktrin baru untuk menyembah cucu-cucu Rasulullah yaitu Hasan dan Husain.

Ia juga mengatakan bahwa Ali belum mati karena beliau merupakan bagian dari ketuhanan. Ali masih hidup, tak akan pernah terbunuh, dan pada waktu tertentu akan kembali ke bumi menegakkan keadilan.

Dakwah dan ideologi sesat ini berlangsung hingga kini. Bahkan juga merambah ke aliran-aliran dan paham-paham baru yang lebih luas, mulai dari Syiah Rafidhah, Gulat, Ismailiyah dan lain-lain. Yang paling populer, tentu saja Syiah Itsna Asyariah.

Salah satu kesuksesan terbesar mereka adalah berhasil menguasai Persia (sekarang Iran) dan menjadikan landasan negaranya dengan ideologi Syiah.

Bak jamur di musim hujan, Syiah berkembang pesat di sana dengan pengikut hampir 80 juta jiwa. Iran menjadi basis utama dakwah Syiah.

Syiah juga merembes ke berbagai negara lainnya (termasuk Indonesia). Puncaknya, saat ini, diperkirakan 1 dari 10 orang Muslim adalah pengikut Syiah. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sekarang, mari kita kembali ke pertanyaan sebelumnya: apa hikmah yang bisa diambil dari meninggalnya putra-putra Nabi pada usia belia?

Dahsyatnya fitnah-fitnah tersebut hanya disebabkan dari satu nasab Nabi Saw., yaitu Fatimah binti Muhammad.

Bayangkan jika ketujuh anak Rasulullah Saw. tetap hidup setelah Nabi Saw. dan melangsungkan keturunan. Apa yang akan terjadi?

Ya, akan ada banyak sekali fitnah yang bermunculan.

Akan terjadi pertumpahan darah di mana-mana karena umat Muslim akan ribut terkait tampuk imamah yang mesti didahulukan di antara para ahlul bait tersebut.

Syirik terhadap Allah akan semakin menjadi-jadi. Jumlah pengikut Syiah akan berkali lipat dari sekarang. Bukan tidak mungkin menyamai atau bahkan melampaui kelompok ahlusunah.

Ingat bahwa keturunan Rasulullah Saw. yang bersambung saat ini hanya berasal dari seorang putri Nabi. Tak heran, Syiah lebih memuliakan Hasan dan Husain ketimbang Fatimah.

Jika Allah memberikan umur panjang pada Abdullah, Qashim, dan Ibrahim, maka akan timbul fitnah yang sangat besar, Saudaraku.

Logikanya, buat apa menyembah cucu Nabi Saw. (Hasan dan Husain) dan putri Nabi (Fatimah), jika ada putra-putra Nabi yang lebih pantas didahulukan?

Akan semakin banyak Muslim yang menyalahartikan antara konsep menghormati dengan menyembah putra-putra Nabi Saw. Nauzubilahi min dzalik!

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa seorang putra nabi yang saleh akan menjadi nabi juga di kemudian hari.

Hal ini bisa dibuktikan dari riwayat nabi-nabi terdahulu. Nabi Adam mempunyai anak saleh yang menjadi nabi bernama Syith; Ibrahim mempunyai Ismail; Ishak mempunyai Yakub; Yakub mempunyai Yusuf, dan seterusnya.

Anak-anak didikan Rasulullah tentu saja saleh semua. Sementara itu, Allah Swt. telah berfirman dalam QS. Al-Ahzab: 40 bahwa Nabi Muhammad adalah khatamul anbiyaa, penutup para nabi. Praktis tidak ada lagi nabi setelah beliau.

Namun, hal-hal seperti ini berpotensi menimbulkan khilaf  di kalangan kaum Muslim. Maka Allah mencabut nyawa putra-putra beliau Saw. pada usia yang tidak mungkin seseorang berhujah padanya usia seorang nabi.

Tentu saja masih banyak hikmah yang tersimpan dari takdir Allah tersebut. Kepastiannya hanya diketahui oleh Allah.

Maka dari itu, berbaik sangkalah (husnuzon) atas apa yang telah digariskan Allah Swt. Seperti firman-Nya dalam surat Al-Baqarah: 216,

وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”


Referensi: