Abu Hurairah: Sahabat Besar yang Telat Masuk Islam

Siapa tidak kenal dengan Abu Hurairah? Seorang sahabat dekat Rasulullah Saw. yang terkenal akan ilmunya hingga ia diberi gelar Hafizul Islam (Sang Penghafal Ajaran-Ajaran Islam).

Dari sekian ratus ribu sahabat Nabi Saw., Abu Hurairah adalah sahabat yang paling produktif dalam meriwayatkan hadis Nabi Saw. Tercatat ada lebih dari enam ribu hadis yang telah ia hasilkan sepanjang sepak terjangnya.

Sungguh, kita sebagai umat Muslim berutang budi kepadanya karena berkatnyalah kita bisa mengenal sunah-sunah Nabi Saw.

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis tentang salat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Praktis, sebagian ibadah yang kita lakukan saat ini adalah ilmu yang turun-temurun diajarkan Abu Hurairah hingga sampai kepada kita saat ini.

Ia adalah sosok yang zuhud. Hal ini tercermin dari akhlaknya yang dermawan dan memilih gaya hidup sederhana. Selain itu, ia juga merupakan sosok Al-Amin (terpercaya) saat menerima jabatan kepemimpinan.

Tiada habisnya untuk menyebutkan kemuliaan Abu Hurairah, hingga Anda mungkin tidak menyadari bahwa sahabat yang satu ini menghabiskan waktu hanya sekitar tiga tahun bersama Nabi Muhammad Saw.

Ya. Tidak seperti sahabat-sahabat kelas kakap lainnya (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman, dsb) yang memiliki jam terbang belasan hingga puluhan tahun bersama Nabi. Abu Hurairah hanya diberi kesempatan oleh Allah tiga tahun untuk hidup dengan Nabi....

...dan ia merupakan periwayat hadis terbanyak sepanjang masa. Sekilas tak masuk akal, bukan?

Bagaimana kisahnya?



Abu Hurairah lahir pada 19 SH. Nama aslinya adalah Abdu Syams bin Shakhr Ad-Dausy Al-Yamany.

Dari nama itu bisa disimpulkan empat hal: nama bapaknya adalah Shakhr; berasal dari suku Daus; berkebangsaan Yaman; dan merupakan seorang penyembah matahari (Abdu Syams) atau dengan kata lain seorang Majusi.

Suku Daus memang terkenal sebagai suku penyembah api dan matahari sehingga tak heran jika ia dahulu menjadi salah satu dari mereka.

Panggilan Abu Hurairah sendiri diberikan oleh teman-teman semasa kecilnya. Abu Hurairah kecil gemar menghabiskan waktunya bersama kucing-kucing liar. Ia merawatnya seperti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.

Saking intens interaksinya dengan kucing-kucing liar itu, teman-temannya memberi sebutan Abu Hurairah yang berarti 'Bapak Anak Kucing Liar.' Sebutan ini terus melekat pada dirinya hingga kini sampai-sampai orang mulai melupakan nama aslinya.

Lahir sebagai dan dalam lingkungan penganut Majusi ternyata tidak membuatnya serta-merta yakin terhadap agama nenek moyangnya sendiri. Masa hidupnya dihabiskan untuk mencari tahu ajaran agama yang benar.

Dalam perjalanannya, ia sempat masuk agama Kristen. Setidaknya jauh lebih baik dari agama Majusi karena juga mengajarkan ketauhidan. Namun, tampaknya keyakinan ini ia sembunyikan karena masyarakat sesukunya tentu akan marah besar jika mengetahui hal tersebut.

Sampai suatu hari, kepala sukunya yang bernama Tufail bin Amr kembali ke kampungnya setelah melakukan perjalanan jauh ke Mekkah untuk melaksanakan haji. Sekadar informasi, Tufail ini telah masuk Islam lebih dahulu sejak bertemu Rasulullah Saw. di Mekkah. 

Sesampainya di kampung, ia mengumumkan sebuah berita penting di hadapan sukunya. "Wahai Bani Daus, sungguh telah datang kebenaran di Mekkah dari seorang utusan Allah."

Tufail lantas menampakkan telapak tangannya dan tiba-tiba saja keluar cahaya putih darinya. Ini mirip mukjizatnya Nabi Musa As. saat berhadapan dengan Firaun. Mukjizat ini dititipkan Rasulullah kepada Tufail sebagai bahan bukti kepada sukunya.

Tufail kemudian mengajak sukunya Bani Daus untuk ikut bersamanya hijrah dari Yaman menuju Madinah menemui Rasulullah. Tidak banyak yang mengindahkan ajakannya kecuali segelintir orang. Satu di antaranya adalah Abu Hurairah.

Dengan bekal uang dan makanan seadanya, berangkatlah Abu Hurairah bersama Tufail dan beberapa rombongannya menuju Madinah. Perjalanan ini memakan waktu sekitar dua bulan.

Terlepas dari itu, ia gembira sekali karena batinnya yakin bahwa dirinya kali ini tidak salah arah.

Sesampainya di Madinah, ia melantunkan syair, "Wahai malam yang panjang dan melelahkan, namun saat itulah aku terselamatkan dari negeri kafir."

Rupanya di sana ia dan segelintir rombongannya tidak menemui Rasulullah Saw. beserta sahabat-sahabat besarnya karena mereka sedang berada di medan pertempuran Khaibar.

Salah seorang di antara penduduk Madinah menimpali, "Rasulullah saat ini berada di Khaibar dan akan datang menemui kalian nanti."

Karena kota Madinah sudah terlalu ramai, Abu Hurairah diberi tempat tinggal di emperan Masjid Nabawi bersama pendatang-pendatang lainnya termasuk yang hijrah dari Mekkah. Jumlahnya kurang lebih 800 orang.

Menjelang Fajar, para sahabat berkumpul di dalam masjid untuk melaksanakan salat subuh yang dipimpin seorang delegasi yang telah ditunjuk langsung oleh Rasulullah Saw., Siba bin Urtufoh.

Selesai salat Subuh, terdengar suara deruman kuda yang menandakan Rasulullah Saw. beserta para pasukannya telah pulang dari medan perang. Waktu itu peperangan dimenangkan oleh kaum Muslim.

Setelah Rasulullah melaksanakan salat subuh dua rakaat dan menemui beberapa sahabatnya, beliau mengarahkan pandangannya kepada seorang pemuda berkulit sawo matang, lebar pundaknya, dan memiliki celah di antara dua gigi depannya. Ya, tidak lain adalah Abu Hurairah.

Mengetahui Rasulullah melihatnya, Abu Hurairah langsung mendatangi Rasulullah. Tanpa berpanjang lebar, ia langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. Inilah momen masuk Islam-nya Abu Hurairah.

Terjadilah bincang-bincang antara Abu Hurairah dan Rasulullah Saw. yang kurang lebih jika diterjemahkan  seperti ini:

Rasulullah: "Dari mana Anda berasal?"
Abu Hurairah: "Daus."
Rasulullah: "Sungguh saya tidak mengetahui ada kebaikan di Daus. Siapa nama Anda?"
Abu Hurairah: "Abdu Syams."
Rasulullah: "Sungguh tidak ada Abdu Syams. Namun (yang benar) Abdurrahman."

Sejak itulah nama Islam-nya ditetapkan. Jika Anda merujuk pada beberapa kitab ulama, mereka menyebutnya sebagaimana nama Islam-nya yakni Abdurrahman bin Shakh.

Dirinya bahagia sekali telah mengucapkan dua kalimat syahadat yang mulia ini. Setelah perjalanan panjang dan beberapa kali gonta-ganti agama, akhirnya ia menemukan ajaran yang hak yaitu Islam.

Namun, Abu Hurairah melihat sekelilingnya. Betapa jumlah umat Muslim sudah banyak sekali. Barangkali ia juga melihat kondisi fisik Rasulullah yang menginjak usia 60 tahun yang berarti tidak lama lagi beliau Saw. akan hidup di dunia ini.

He realised that he was late to the party.

Bayangkan jika Anda berada di posisi Abu Hurairah. Apa yang akan Anda perbuat? Setelah sekian lama menyusuri jalan yang benar. Sekalinya dapat ternyata pertemuan ini akan berakhir sebentar lagi.

Ibaratnya dalam sebuah perlombaan lari berjarak 100 meter, para kontestan telah mencapai 80 meter ke atas sementara kita baru saja mulai dari garis start. 

Dengan demikian, sudah tidak ada lagi waktu berlengah-lengah. Ia mesti "berlari" sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya dari sahabat-sahabat lain. Maka, ia tancapkan niat yang kuat dalam hatinya, "Aku ingin segera menyusul kawan-kawanku yang terlebih dulu masuk Islam."

Strategi

Abu Hurairah sendiri telah menyiapkan beberapa strategi. Strategi pertamanya adalah ia harus selalu satu langkah lebih maju dibandingkan sahabat-sahabat lainnya. Dalam hal apa pun.

Maka ketika Umar, Abu Bakar, Utsman, dan sahabat-sahabat lainnya menunggu tausiyah Rasulullah di dalam masjid, Abu Hurairah memilih berdiri menunggu di depan pintu rumah Rasulullah Saw.

Begitu beliau Saw. keluar, Abu Hurairah melaksanakan misi keduanya yaitu "berburu" sunah Nabi. Ia langsung mengamati segala perilaku Nabi. Mulai dari caranya berjalan, menengok, berbicara, senyum, salat, tidur, makan... pokoknya semuanya ia amati, catat, dan langsung dipraktikkan saat itu juga.

Begitu pun saat Nabi Saw. bertanya dalam suatu ceramahnya, "Siapa di antara kalian yang mau mengambil sunahku untuk diamalkan atau mengajari orang yang ingin mengamalkannya?"

Tanpa berpikir apakah perintahnya bakal sulit atau tidak, ia langsung mengangkat tangan dan menjawab, "Saya wahai Rasulullah." Rasulullah pun tersenyum lantas memberinya beberapa nasihat.

Khidmatnya kepada Rasulullah Saw. terus dilakukannya hingga beberapa orang menyebutnya "bayang-bayang Rasulullah." Ke mana pun Rasul pergi, Abu Hurairah senantiasa membersamainya. Ia tahu betul bahwa Rasulullah ini adalah ladang emasnya.

Saking hebatnya melayani Rasul, ia sering lupa diri. Beberapa kali para sahabat menemukan Abu Hurairah dalam keadaan mati sesaat (baca: pingsan) dan kejang-kejang. Mengapa? Karena ia begitu miskin hingga tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Hari-harinya dipenuhi dengan kondisi kelaparan.

Di sisi lain, ia juga tidak ada waktu untuk mencari makan. Hidupnya mesti dipenuhi dengan belajar dan belajar. Untuk mengatasinya, ia sering mengikatkan batu-batu di perutnya untuk menahan lapar yang memuncak.

Bakti kepada Ibunya

Abu Hurairah belum memiliki keluarga sendiri karena tidak sempat menikah. Satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki adalah ibunya yang telah lanjut usia. Abu Hurairah telah menjadi seorang yatim sejak kecil.

Namun, ia tidak pernah menyia-nyiakan "ladang surga" yang satu ini. Ke mana pun hendak pergi, ia tidak pernah lupa pamitan dengan ibunya. Ia selalu mendahulukan urusan ibunya dibandingkan dirinya sendiri.

Ibunya waktu itu masih dalam keadaan musyrik. Di satu sisi ingin selalu berbakti kepadanya, ia tentu juga ingin agar ibunya menjemput hidayah Islam. Ia sering mendakwahi ibunya agar mau masuk Islam.

Namun, ternyata ibunya selalu menolak. Meski demikian, Ia tidak berputus asa untuk mendakwahi sang ibu. 

Karena mungkin jengkel diceramahi terus-terusan, suatu kali ibunya mengeluarkan kata-kata kasar dan menghina Nabi Muhammad Saw.

Abu Hurairah menangis sejadi-jadinya. Ia pergi melaporkan hal ini kepada Rasulullah Saw. Melihat Abu Hurairah menangis, Rasulullah terheran-heran.

Rasulullah: "Mengapa Anda menangis?"
Abu Hurairah: "Wahai Rasulullah. Sungguh saya telah mendakwahi ibu saya kepada Islam namun ia masih saja menolak saya. Hari ini kembali saya mendakwahinya namun ia malah mengeluarkan ujaran kebencian terhadap Anda. Oleh karena itu, doakanlah agar Allah memberikan hidayah kepadanya. "
Rasulullah: "Ya Allah, berikanlah hidayah kepada umma Abu Hurairah (ibunya Abu Hurairah)."

Hati Abu Hurairah menjadi tenang seketika setelah mendengar doa Rasulullah. Ia kemudian berangkat balik menuju rumahnya. Namun, sesampainya di sana ternyata pintu rumah dalam keadaan terkunci.

Ia mendengar gemercik air di dalam rumah. "Tetaplah di tempatmu, Abu Hurairah," suara ibunya terdengar. Rupanya ibunya sedang mandi (zaman dahulu tidak ada pemisah ruangan kamar mandi).

Setelah mandi, ibunya membukakan pintu. Tidak ada angin dan petir, tiba-tiba saja ibunya mengucapkan, "Wahai Abu Hurairah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."

Abu Hurairah terharu bukan main hingga ia menangis kembali. Ia lantas bergegas menemui Rasulullah Saw. Dalam hatinya Rasul barangkali kebingungan, "Kenapa lagi, nih? Kok nangis lagi?"

"Wahai Rasulullah, bergembiralah! Sungguh Allah telah mengabulkan doa Anda dan telah memberikan hidayah kepada ibu saya," ucapnya.

Setelah memuji dan menyanjung Allah Swt., Rasulullah menjawab, "Bagus."

Begitulah. Kecintaannya terhadap Rasulullah Saw., ibunya, dan ilmu agama menjadikannya menonjol di antara kalangan sahabat-sahabat lain.

Namun tidak lama kemudian, Rasulullah Saw. menghembuskan napas terakhirnya pada usia 63 tahun. Dengan demikian, ini sekaligus mengakhiri kisah hidupnya bersama Rasulullah Saw.

Warisan Rasulullah

Abu Hurairah sangat memahami pentingnya ilmu. Suatu kali ia berjalan ke pasar dan melihat kondisi para ahlul suuq (penghuni pasar). Seperti biasa, para pedagang semangat menjajakan dagangannya kepada para pembeli.

Namun, ia merasa sedih melihat mereka yang terlalu sibuk mencari harta dunia sampai melupakan harta akhirat. 

Terjadilah percakapan antara dirinya dengan para penghuni pasar.

Abu Hurairah: "Wahai, Ahlul Suuq. Mengapa kalian bermalas-malasan?"
Penghuni pasar: "Apa yang Anda maksud wahai Abu Hurairah?"
Abu Hurairah: "Tidakkah kalian mengetahui bahwa warisan Nabi sedang dibagi-bagikan? Mengapa kalian tidak ikut mengambil bagian?"
Penghuni pasar: "Di mana wahai Abu Hurairah?"
Abu Hurairah: "Di masjid."

Maka para penghuni pasar langsung berangkat menuju masjid. Seketika seisi pasar langsung kosong. Sementara itu, Abu Hurairah tetap menunggu di dalam pasar.

Sekembalinya para penghuni pasar, ia dapati wajah keheranan dan jengkel dari mereka.

Penghuni pasar: "Wahai Abu Hurairah. Tidak kami dapatkan warisan apa pun di masjid."
Abu Hurairah: "Tidakkah kalian melihat sesuatu di sana?"
Penghuni pasar: "Kami hanya melihat orang yang sedang salat, membaca Quran, dan mempelajari hukum-hukum Allah."
Abu Hurairah: "Celakalah kalian! Itulah warisan dari Nabi Saw. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkan warisan Rasul, maka dia telah mendapatkan warisan terbanyak dan terbaik."

Ilmu dan Jabatan

Di zaman khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, ia diberi mandat sebagai gubernur Madinah. Selain itu, ia juga akhirnya menikah dan mempunyai anak. Hartanya mulai bertambah dan menjadi orang berada.

Selain menjadi gubernur, ia juga menjadi seorang alim besar. Ia memiliki sekitar 800 murid yang menimba ilmu darinya. Dari sanalah terkumpul hadis-hadis yang jumlahnya mencapai lebih dari enam ribu buah. Abu Hurairah memaksimalkan betul pengetahuan yang ia dapat untuk disebarkan seluas-luasnya.

Seseorang pernah berkata kepadanya, "Anda terlalu banyak menyampaikan hadis." Ia menjawab, "Saya menghafal dari Rasulullah dua karung ilmu. Satu karungnya sudah saya berikan kepada kalian. Untuk karung yang kedua, jika saya sampaikan maka kepala saya akan dipenggal."

Maka sesuai perkataanya, hadis-hadisnya yang berjumlah enam ribuan itu baru setengah dari wawasan yang dimilikinya. Setengahnya lagi ia sembunyikan karena alasan tertentu. Masyaallah, betapa luas ilmunya.

Selain itu, ia juga dianugerahi ingatan yang tajam sehingga tidak ada hadis dari Nabi Saw. yang luput satu huruf pun.

Pernah suatu ketika ia diminta oleh Marwan bin Hakam--khalifah Bani Umayyah--untuk menyebutkan sejumlah hadis yang dihafalnya. Secara diam-diam, Marwan telah menyiapkan orang-orang kepercayaannya untuk mencatat hadis-hadis yang disebutkan.

Setahun kemudian, Marwan menguji hafalan Abu Hurairah dengan menanyakan sejumlah hadis yang pernah ditanyakannya tahun lalu. Secara mengejutkan, Abu Hurairah berhasil menjabarkannya kembali secara sempurna.

Kendati memiliki khazanah pengetahuan yang luas dan ingatan yang tajam, ia tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Memang menuntut ilmu itu tidak mengenal kondisi; tidak ada kata terlambat dan tidak ada kata berakhir.

Kasih sayang kepada ibunya pun tidak berkurang sedikit pun. Seakan-akan seluruh jabatan dan keilmuannya lepas begitu saja ketika berhadapan dengan sosok ibu.

Kezuhudan

Seperti sahabat-sahabat kelas kakap lainnya, Abu Hurairah terkenal dengan kezuhudannya. Ia mengetahui bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara dan akhirat merupakan peristirahan yang kekal.

Kendati telah jadi gubernur, hidupnya dipenuhi dengan kesederhanaan. Rumahnya sendiri juga sangat sederhana yang hanya terbuat dari bahan dasar kayu. Ia sendiri yang merancang dan membangunnya.

Pada saat dinasti Umayyah dipimpin oleh Marwan bin Hakam, Marwan pernah mengiriminya uang sebesar 1 dinar (sekitar Rp200 juta). Uang yang diterima langsung ia bagi-bagikan kepada rakyatnya.

Keesokan harinya, Marwan menagih kembali uang tersebut dengan alasan salah kirim. "Loh, bagaimana ini? Uangnya sudah saya bagikan kepada rakyat saya. Kalau begitu Anda potong saja gaji saya," respons Abu Hurairah kebingungan.

"Oke, tidak masalah. Sesungguhnya saya hanya mengetes kezuhudan Anda," jawab Marwan sambil tertawa.

Napas Terakhir

Kullu nafsin zaaiqatul maut. Setiap yang berjiwa pasti akan meninggal. Inilah takdir yang telah Allah gariskan.

Kebanyakan sahabat Rasul telah mendahului Abu Hurairah dengan jarak puluhan tahun. Abu Hurairah merupakan satu dari segelintir sahabat yang masih hidup di generasi setelah Nabi.

Ketika Abu Hurairah terbaring karena sakit keras dan tampaknya akan segera meninggal dunia, ia menangis. Orang-orang bertanya kepadanya, "Mengapa Anda menangis, wahai Abu Hurairah?"

"Saya menangis bukan karena akan berpisah dengan dunia kalian ini. Saya menangis karena perjalanan saya masih panjang sementara perbekalan saya amatlah sedikit. Saya telah berada di ujung jalan yang akan mengantarkan saya ke surga atau neraka."

Masyaallah. Betapa tawadu dirinya. Padahal, ia telah memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap Islam. Pahala jariyahnya lewat ilmu yang bermanfaat masih terus mengalir hingga sekarang karena hadis-hadisnya terus dirujuk kaum Muslim di seluruh dunia. Namun demikian, ia masih merasa hal itu belum cukup.

Kemudian, datanglah Marwan bin Hakim menjenguknya. Melihat kondisinya yang demikian, Marwan berdoa, "Semoga Allah menyembuhkan Anda, wahai Abu Hurairah."

Akan tetapi, bukannya mengaminkan doa tersebut, Abu Hurairah justru berdoa sebaliknya. "Ya Allah, sungguh aku rindu bertemu dengan-Mu. Semoga Engkau juga begitu terhadapku. Oleh karena itu, segerakanlah pertemuan itu!"

Akhirnya, tidak lama setelah kedatangan Marwan, Abu Hurairah menyusul Rasulullah dan sahabat-sahabat lain. Ia wafat pada usia 78 tahun. Semoga Allah Swt. rida terhadapnya dan memberikan derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Referensi: