Mukjizat di Balik Jamuan Makan Jabir bin Abdullah

Sudah berhari-hari sejak Rasulullah dan para sahabatnya menggali parit untuk persiapan mereka menghadapi serangan dari suku Quraisy.

Strategi penggalian parit atau disebut juga Khandaq ini dicetus oleh seorang sahabat yang baru saja masuk Islam bernama Salman Al-Farisi.

Parit ini dilokasikan beberapa hasta dari depan pintu gerbang Madinah. Parit ini nantinya akan digali hingga panjangnya mencapai 5,5 kilometer, lebarnya 4,5 meter, dan kedalaman 3,2 kilometer. Hal ini untuk mengantisipasi musuh sehingga mereka tidak bisa melewati parit tersebut.

Soalnya, kaum Quraisy memiliki sejumlah pasukan berkuda terlatih yang mampu mengendalikan kuda-kuda mereka untuk melompat dengan jarak yang mengagumkan.

Rasulullah mesti benar-benar memperhitungkan jarak yang tepat dan memastikan lubang itu tergali cukup dalam dan lebar sehingga tidak bisa dilewati oleh mereka.

(Kendati akhirnya masih ada beberapa pasukan kuda superstar yang berhasil melewati parit itu; mereka adalah Amru bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Dhirar bin Al-Khattab).
 
Tidak banyak waktu yang mereka miliki. Pasukan Quraisy akan datang menyerang Madinah dalam waktu kurang dari dua minggu.

Maka, Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang berjumlah sekitar seribu orang berjuang keras agar proyek parit itu selesai setidaknya dalam waktu 10 hari.

Tatkala proyek itu sudah setengah jalan, para sahabat sudah merasa kewalahan. Ide parit ini memang cukup "gila." Sebuah pekerjaan yang perlu banyak waktu namun harus dikerjakan dalam waktu singkat.

Selain itu, mereka juga menderita kalaparan karena persediaan makanan yang terbatas. Satu-satunya bekal yang mereka bawa adalah beberapa biji kurma. Ketika bekal itu habis, mereka terpaksa menahan makan selama beberapa hari.

Di tengah-tengah itu, tiba-tiba saja ada sebongkah batu yang sangat keras yang tidak bisa digali oleh para sahabat.

Padahal, batu itu telah disirami air sehingga seharusnya memperlunak permukaannya. Namun, tetap saja batu itu tidak bisa dibongkar.

Hal ini menghambat proses penggalian. Maka mereka mengadukan ini kepada Rasulullah Saw.

"Biar aku yang turun menggali batu itu," kata beliau Saw. sambil turun ke dalam parit. Kemudian, beliau mengambil kapak dan memukulkan batu itu hingga hancur berkeping-keping.

Setelah selesai, Rasulullah tampak kelelahan dan perut beliau telah diganjal dengan batu. Rupanya kondisi kelaparan ini juga dialami beliau.

Seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadis bernama Jabir bin Abdullah tak tega melihat kondisi Rasulullah itu.

Beliau Saw. bekerja sangat keras sampai-sampai harus mengikatkan batu ke perutnya untuk manahan rasa lapar yang memuncak.

"Wahai Rasulullah, izinkanlah saya pulang ke rumah saya sebentar untuk menyelesaikan keperluan saya," kata Jabir bin Abdullah. Rasulullah pun mengizinkannya.

Sesampainya di rumah, Jabir segera menemui istrinya dan menceritakan kekhawatirannya akan Rasulullah Saw.

"Aku telah menyaksikan keadaan Rasulullah Saw. yang membuatku tidak dapat menahannya lagi. Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dimakan?"

"Ada, sih. Tetapi aku cuma punya satu sha (setengah kilo) gandum yang masih kasar dan seekor kambing betina," jawab istrinya.

Maka dengan persediaan ala kadarnya itu, Jabir dan istrinya membagi tugas. Istrinya menumbuk gandum yang masih kasar itu agar layak dikunyah dan Jabir mengurusi anak kambing satu-satunya itu.

Maka, disembelihlah anak kambing itu. Sesudahnya, kambing itu dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan dimasukkan ke dalam periuk untuk dimasak.

Setelah daging kambing matang, Jabir kembali menuju Khandaq untuk menyelesaikan beberapa urusannya.

Setelah itu, ia meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang yang kedua kalinya. Ternyata beliau izinkan.

Jabir menemui istrinya kembali. Ternyata adonan gandum telah siap. Maka, ia perintahkan istrinya untuk mengolahnya menjadi roti. Kemudian, Jabir membiarkan daging kambingnya di dalam periuk.

Setelah persiapan sudah hampir selesai, Jabir bermaksud kembali ke Khandaq untuk menjamu Rasulullah Saw.

Sesampainya di sana, ia teringat pesan istrinya, "Ingat! Makanan kita hanya sedikit. Engkau jangan membuatku malu di depan Rasulullah dan para sahabatnya."

Maka Jabir berkata kepada Rasulullah dengan berbisik-bisik, "Wahai Rasulullah, aku memiliki sedikit makanan. Sekiranya baginda mau, baginda bisa datang ke rumah saya dan mengajak satu atau dua orang sahabat."

"Memangnya, makanannya untuk berapa orang?" tanya Rasulullah. "Kami hanya mempunyai satu sha gandum dan seekor anak kambing. Cukuplah buat makan-makan dua atau tiga orang," jawab Jabir.

Di luar dugaan, Rasulullah berpaling dan berteriak kepada semua sahabat yang sedang menggali parit, "Wahai ahlul khandaq, tundalah pekerjaan kalian! Jabir menjamu kita semua nich untuk makan-makan di rumahnya!"

"Horeee! Makan-makan!" sorak para sahabat dengan wajah sumringah. Mereka bergembira sekali karena sudah beberapa hari hanya mengganjal mulut mereka dengan kurma. Akhirnya bisa makan makanan "sungguhan", pikir mereka.

Sementara itu, Jabir, hatinya remuk dan mukanya menjadi pucat lesu. Ia langsung baper dengan Rasulullah Saw. Tak tahu lagi harus dikemanakan mukanya di depan istrinya.

"Pulanglah kamu ke istrimu. Sampaikan padanya, jangan angkat periuk dari tungku dan jangan angkat roti dari panggangannya sebelum aku datang," perintah Rasulullah kepada Jabir.

"Yuk, mari kita semua berangkat," ajak Rasulullah kepada semua sahabat. Maka berangkatlah mereka semua menyerbu rumah Jabir. Jumlah mereka mencapai 800 orang.

Jabir bergegas lari menuju rumahnya mendahului mereka semua.

Sesampainya, ia kabarkan hal ini kepada istrinya. "Keadaan benar-benar gawat, nich! Rasulullah datang dengan keseluruhan sahabatnya."

"Aduh! Bagaimana sih kamu ini?" jawab istrinya panik bercampul kesal.

"Sudah kukatakan padanya untuk mengundang satu atau dua sahabat saja," bela Jabir.

"Tadi apakah Rasul bertanya kepadamu berapa banyak makanan kita?"

"Iya, telah kujelaskan!" tegas Jabir.

"Kalau begitu, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Yang jelas, engkau telah memberitahukan kepadanya seberapa banyak makanan yang kita punya," istrinya coba menenangkan dan mengajaknya berpikir jernih.

Mendengar jawaban istrinya, Jabir yang tadinya panik menjadi agak tenang. Hmm... benar juga. Ini Rasul, loh. Bukan sembarang orang.

"Sungguh engkau benar, Adindaku," jawab Jabir membenarkan pernyataan istrinya. Ia yakin Rasulullah telah merencanakan suatu hal.

Tak lama, Rasulullah Saw. datang dan masuk sembari mengatur para sahabatnya. "Awas, jangan berdesak-desakkan, ya!" kata Rasulullah kepada mereka.

Kemudian, Jabir mengajak Rasulullah menuju dapur. Diserahkanlah adonan rotinya kepada Rasulullah Saw.

Lalu, beliau Saw. meludahi adonan roti itu untuk memberi keberkahan (jangan samakan ludah kita dengan ludah Rasul, ya).

Setelahnya, Rasulullah menuju periuk tempat kambing itu dimasak. Beliau memohon kepada Allah Swt. untuk memberkahi makanan ini.

Setelah selesai segala ritual, Jabir mengeluarkan roti dari panggangan dan kambing dari periuk serta mulai menghidangkannya kepada mereka semua.

"Hendaklah setiap tujuh atau delapan orang berkumpul pada satu piring," perintah Rasulullah kepada mereka.

Ketika makanan di piring itu habis, Jabir kembali ke panggangan dan periuk. Ternyata persediannya masih penuh. Maka, ia ambil dan penuhi lagi piring-piring mereka.

Keadaan ini terus berlangsung hingga seluruh sahabat kekenyangan dan tak mampu lagi mengisi perut mereka.

Setelah semuanya makan dan pergi, dilihatlah isi makanan dalam panggangan dan periuk itu. Ternyata baik roti maupun daging kambing masih dalam keadaan utuh seperti semula.

"Sesungguhnya orang-orang sudah kenyang. Kini, gilaranmu makan bersama keluargamu," kata Rasulullah kepada Jabir.

Maka, makanlah Jabir dan istrinya dengan puas dan penuh sukacita.

Aaah... indahnya.


Referensi hadis:
  • Sahih Bukhari: 3792
  • Sunan Darimi: 42
  • Sahih Muslim: 3800