Kucing dalam Islam dan Medis

Keberadaan kucing tidak hanya dipandang spesial di mata dunia, namun juga di mata Islam. Dalam Islam sendiri, kucing memiliki kedudukan yang istimewa.

Rasulullah ﷺ merupakan pribadi yang sangat mencintai makhluk hidup, termasuk kucing. Beliau sangat marah jika ada orang yang menyakiti hewan lucu yang satu ini.

Jangan anggap remeh hewan ini. Kesalahan sepele yang bisa menyakiti kucing bisa membuat seseorang berujung api Neraka.

Dalam sebuah hadis riwayat Muttafaq 'Alaih, Rasulullah Saw. bersabda, "Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya makan serangga bumi sehingga ia mati kelaparan."

Sebagai umat Muslim, kita diperintahkan untuk menyayangi semua makhluk hidup. Alasannya, semua makhluk hidup tak ubahnya hamba-hamba Allah sama seperti kita.

Mengenal Abu Hurairah

Dalam catatan sejarah Islam, kita mempunyai seorang sahabat ahli hadis yang juga dikenal sebagai penyayang kucing. Ia adalah Abdurrahman bin Shakh atau yang lebih dikenal Abu Hurairah.

Abu berarti 'Bapak' sementara hurairah berarti 'anak kucing liar' yang merupakan turunan dari kata hirr (kucing). Sehingga, Abu Hurairah berarti 'Bapak Anak Kucing Liar.'

Mengenai asal usul julukannya yang aneh ini pernah ditanyakan oleh seorang sahabat bernama Abdullah bin Rafi, "Mengapa engkau bernama kuniyah (julukan) Abu Hurairah?"

"Saya dahulu bekerja menggembalakan kambing keluarga saya dan di sisi saya terdapat seekor kucing liar kecil (hurairah). Lalu saat malam tiba saya menaruhnya di sebatang pohon. Jika hari telah siang, saya pergi ke pohon itu dan saya bermain-main dengannya. Maka, saya diberi kuniyah Abu Hurairah (Bapak Anak Kucing Liar)."

Jadi, Abu Hurairah sedari kecil memang sudah gemar memelihara kucing. Saat dirinya beranjak dewasa dan masuk Islam, pun kecintaannya terhadap hewan kecil berbulu lebat ini tidak berubah.

Namun, Rasulullah tidak pernah melarangnya memelihara kucing. Beliau Saw. menganggapnya sebagai hobi positif.

Dikisahkan pada suatu hari saat ia tengah menggembalakan kambing-kambingnya, ia menemukan seekor anak kucing. Melihatnya dalam kondisi kesepian, ia pungut anak kucing tersebut dan dibawanya.

Lalu, ia merawatnya dan meneduhkannya di atas batang pohon. Pada siang harinya, ia menaruh anak kucing itu di lengan bajunya dan bermain-bermain dengannya.

Suatu ketika, anak kucing itu mengeong hingga terdengar oleh Rasulullah Saw. "Suara apa itu?" tanya beliau.

"Ini anak kucing yang saya temukan, wahai Rasulullah," jawab Abu Hurairah.

"Engkau memanglah Abu Hurairah (Bapak Anak Kucing Liar)," Rasulullah meneruskan.

Kucing dalam Hukum Islam

Dalam Islam sendiri, kucing tidak sama dengan anjing. Seluruh bagian tubuh kucing adalah suci. Sehingga, tidak ada alasan bagi seseorang untuk menghindari hewan ini, kecuali jika ada alergi atau terkena najis.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Kucing itu tidak najis sebab ia termasuk hewan yang berkeliaran di sekitar kalian." (HR. Abu Daud, Ahmad, Tirmizi)

Karena sifat bawaan ini (suci), maka dibolehkan juga bagi seseorang berwudu bahkan minum dari air bekas jilatan kucing. Hal ini bisa diketahui karena Rasulullah Saw. pernah melakukannya (wudu).

Termasuk dibolehkan juga membawa kucing ke dalam rumah, masjid, atau tempat manapun. Serta, tidak ada larangan untuk memelihara kucing.

Perbaruan (5 Agustus 2019): 

Jual Beli Kucing

Memelihara kucing tidaklah mengapa dalam Islam. Namun, hukum jual beli kucing adalah haram.

Berikut kutipan yang saya dapat dari artikel KonsultasiSyariah.com:

Diantara hadis yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Abu Az-Zubair, bahwa beliau pernah bertanya kepada Jabir tentang hukum uang hasil penjualan anjing dan Sinnur. Lalu sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal itu. (HR. Muslim 1569).

Dalam riwayat lain dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan uang hasil penjualan anjing dan sinnur. (HR. Abu Daud 3479, Turmudzi 1279, dan dishahihkan al-Albani).

Sinnur artinya kucing.

Kucing dalam Dunia Medis


Dalam dunia medis sekalipun, ternyata terbukti bahwa memelihara kucing dapat memberikan sejumlah manfaat. Termasuk di dalamnya terdapat fakta yang membuktikan kebenaran hukum kucing dalam Islam yaitu sebagai hewan yang suci.

Di bawah ini ulasannya.

1. Menurunkan Risiko Terkena Penyakit Jantung

Sebuah studi dilakukan oleh Profesor Adnan Qureshi dari Minnesota University. Ia memeriksa 4.435 pasien dengan rentang usia 30 hingga 75 tahun. Diketahui, setengah di antaranya memelihara kucing.

Kemudian, ia meneliti rasio kematian karena penyakit jantung antara orang yang memelihara kucing dan tidak memelihara kucing.

Setelah 10 tahun studinya berlangsung, tercatat bahwa rasio kematian karena penyakit jantung bagi pemelihara kucing adalah 3,4 persen. Sementara itu, yang tidak memelihara kucing mendapat rasio 5,8 persen.

Hasil ini cukup mengejutkan karena perbandingannya nyaris satu banding dua. 

"Alasan logis yang bisa diterima, kemungkinan bahwa kucing menghilangkan stres dan kelelahan bagi si pemiliknya. Ini secara tidak langsung berdampak pada penurunan risiko penyakit jantung terhadap pemilik tersebut," ujar Profesor Adnan Qureshi sebagaimana dikutip dari Telegraph.

2. Menguatkan Tulang dan Mencegah Pengeroposannya

Dengkuran kucing diketahui sebagai indikasi bahwa si kucing sedang bahagia atau boleh jadi sedang tertidur pulas. 

Namun, belakangan ini, dengkuran kucing juga diketahui ternyata memberi sejumlah manfaat. Salah satunya adalah menguatkan tulang.

Penelitian dimulai sejak beredarnya kisah-kisah tentang sakit tulang yang menjadi lebih baik bahkan sembuh setelah diperdengarkan dengkuran kucing. Akhirnya setelah bertahun-tahun diteliti, terbukti bahwa dengkuran kucing memang bermanfaat bagi tulang.

Hal ini bisa dijelaskan dengan frekuensi dengkuran kucing yaitu 26 Hertz. Secara mengejutkan, ini adalah frekuensi yang sama persis saat seseorang melakukan vibrational therapy untuk meregenerasi dan menyembuhkan jaringan-jaringan tulang dan otot.

3. Kucing Hewan yang Bersih

Studi membuktikan bahwa kucing memang hewan yang sangat bersih. Hal ini bisa terjadi karena kucing menghabiskan 50 persen aktivitasnya untuk menjilat-jilat tubuhnya sendiri (self-grooming)

Disadari atau tidak, aktivitas inilah yang membuat tubuh si kucing bersih. Lidah kucing memiliki tekstur kasar dan terdapat semacam sekat-sekat di permukaannya. Tak heran, kucing termasuk hewan yang bisa membersihkan dirinya sendiri (self-cleaning pet).

Jauh berbeda dengan lidah anjing yang memiliki air liur menjijikkan bahkan bisa menyebabkan penyakit. 

Selain itu, secara teori, kucing juga tidak perlu dimandikan kecuali pada bagian telinganya. Sebab, lidah kucing tidak bisa menjangkau telinganya.

4. Mencegah Stres

Memelihara kucing sudah lama diketahui dapat membantu mencegah stres dan juga penangkal mood buruk. 

Tidak seperti kebanyakan hewan lain, kucing adalah hewan yang setia dan tidak rewel. Kucing bisa diajak bermain kapan pun. Bahkan, kucing dapat dilatih untuk melakukan aksi-aksi ringan tertentu. 


Sehingga, bermain dengan kucing tak ubahnya bermain dengan boneka yang dapat bergerak dan berbicara.

Bagaimana, tertarik untuk memelihara kucing?